Sumenep | Demarkasi.co – Tajin Sappar alias Tajin Polor adalah salah satu bubur khas Sumenep, Madura, Jawa Timur, yang biasanya dibuat saat bulan Safar, bulan kedua dalam kalender Hijriyah.
Tradisi ini merupakan bagian dari warisan budaya nenek moyang masyarakat Madura dan masyarakat Jawa Timur, khususnya masyarakat kabupaten Sumenep. Luar biasanya, meski belum diketahui secara pasti siapa yang pertama kali mencetuskan tradisi ini. Namun, tradisi Tajin Polor tetap lestari dan mengandung nilai filosofis.
Berdasarkan berbagai sumber media menyatakan bahwa tradisi ini diyakini sudah ada sejak zaman penyebaran agama Islam di Indonesia oleh kanjeng sunan Kalijaga. Dimana Raden Mas Said nama lain dari sunan Kalijaga pada saat penyebaran agama di Nusantara menggunakan tajin sappar sebagai media dakwah untuk memperkenalkan ajaran Islam melalui budaya.
Tajin Sappar menjadi sarana untuk mempererat tali silaturahmi antar warga dan meningkatkan solidaritas sosial. Sebab, tajin Polor yang dibuat oleh masyarakat Madura, khususnya di Sumenep selain dinikmati bersama keluarga sendiri di rumah, tajin sappar atau tajin Polor juga dibagikan kepada kerabat, sanak saudara dan para tetangga sebagai wujud berbagi sekaligus sebagai sarana mempererat hubungan. Hal ini juga disebut sebagai tradisi (ter-ater – Madura).
Salah satu nilai filosofis lainnya tentang tradisi tajin Polor adalah terletak di Warna dan tekstur tajin atau buburnya. Warna kecoklatan atau merah pada tajin Polor melambangkan darah seorang ibu, sedangkan warna putih dan bentuk bulat pada Candil (adonan kecil berbentuk bulat) melambangkan embrio dan sperma, hal tersebut mengingatkan akan asal usul manusia.
Tajin Polor atau tajin sappar biasanya disajikan menggunakan daun pisang agar menambah citarasa dan aroma tajin semakin nikmat. Namun, seiring waktu masyarakat ada yang menggunakan kertas bahkan langsung dituangkan ke wadah tanpa daun dan kertas.
Selain itu, masyarakat terus memodifikasi bentuk dan racikan sebagai kombinasi dalam tajin sappar atau tajin Polor orang Madura. Jika dulu jenang sappar hanya menggunakan tepung beras, tepung ketan, santan kelapa dan gula merah. Seiring waktu masyarakat ada yang menambahkan mutiara dan campuran kacang hijau sebagai pelengkap kenikmatan citarasa tajin Polor.
Tradisi unik ini juga diyakini sebagai wujud syukur atas segala nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Tradisi membuat tajin Polor di lingkungan masyarakat Jawa Timur khususnya di kabupaten Sumenep juga diyakini sebagai media pengingat untuk senantiasa menjaga sesama. Yakni untuk saling asah, saling asuh dan saling asih.
Tajin Sappar tidak hanya sekadar kuliner, tetapi juga menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya dan tradisi keagamaan masyarakat Sumenep. Sehingga atas dasar itu semua tradisi tajin Polor atau tajin sappar mengandung tiga nilai yakni historis, teologis dan sosiologis.
Dalam tradisi ini, disamping mengingatkan kita tentang asal usul manusia, tradisi tajin Polor atau sappar juga dikaitkan dengan peristiwa penting dalam sejarah. Seperti kejadian yang dialami para nabi dan peristiwa alam lainnya.
Masyarakat kabupaten Sumenep dan daerah lain di Jawa Timur betul-betul menjaga tradisi tajin sappar alias tajin Polor sebagai khazanah. Mereka terus mewariskannya dari generasi ke generasi selanjutnya sebagai warisan budaya yang sangat berharga.
Mengenal Tajin Polor Tradisi Masyarakat Sumenep












