Bos HM Buka Pembelian Tembakau di Gudang Lenteng, Target Serap 1.000 Ton di Musim Panen 2026

Bos HM Buka Pembelian Tembakau di Gudang Lenteng, Target Serap 1.000 Ton di Musim Panen 2026
H. Mukmin alias Bos HM saat Membeli Tembakau Petani di Gudang Lenteng Sumenep

SUMENEP, Demarkasi.co – Kabar baik bagi petani tembakau di Madura. Pengusaha rokok lokal Sumenep, Haji Mukmin atau yang akrab disapa Bos HM, resmi membuka gudang pembelian tembakau di Desa Daramista, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, pada musim panen 2026.

Pembukaan gudang ini menjadi angin segar di tengah kekhawatiran petani soal penyerapan hasil panen. Tahun ini, Bos HM menargetkan penyerapan tembakau hingga 1.000 ton yang berasal dari petani Sumenep dan wilayah Madura lainnya.

Rencana kita beli seribu ton,” ujar Haji Mukmin saat ditemui di lokasi gudangnya di Desa Daramista, Lenteng.

Bos HM menjelaskan, pembelian tahun ini dilakukan dengan sistem konsorsium yang melibatkan beberapa pihak, sehingga kapasitas serap menjadi lebih besar dibanding mengandalkan modal pribadi. Dibandingkan musim panen sebelumnya, ia memprediksi serapan tahun ini akan mengalami peningkatan signifikan.

Soal harga, Bos HM membeberkan secara rinci. Harga tembakau ditentukan berdasarkan kualitas daun dan asal lahan tanam.

Untuk tembakau sawah, harga pembelian dipatok mulai Rp50 ribu per kilogram. Kemudian untuk tembakau tegal berada di kisaran Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram.

Sementara harga tertinggi ada pada tembakau gunung dan tegal gunung, yang mencapai Rp60 ribu hingga Rp72 ribu per kilogram, tergantung kualitas rajangan dan kekeringan.

Yang tegal dari Rp50 ribu sampai Rp60 ribu. Gunung sama tegal gunung dari Rp60 ribu sampai Rp72 ribu,” jelasnya.

Ia menegaskan, tembakau dari luar Sumenep seperti Sampang dan Pamekasan juga tetap diterima, selama memenuhi standar kualitas. Pihaknya berupaya menjaga harga tetap stabil dan layak agar petani tidak merugi, dengan mempertimbangkan besarnya biaya produksi selama masa tanam.

Kita itu cuma menstabilkan harga saja dari awal sampai akhir,” katanya.

Di tengah tingginya antusiasme petani, Bos HM justru menemukan banyak tembakau yang masuk ke gudang dalam kondisi terlalu muda. Menurutnya, praktik memetik tembakau yang belum cukup umur sangat merugikan petani itu sendiri.

Tembakau muda memiliki kualitas rendah, bobot susut, dan harga jual tidak bisa maksimal. Apalagi, kondisi cuaca yang tidak menentu dengan turunnya hujan saat panen juga berpotensi merusak kualitas daun.

Karena itu, ia mengimbau keras kepada petani dan para pedagang untuk tidak terburu-buru panen.

Jangan sampai dipetik muda. Karena pabrik besar seperti Sampoerna, Djarum, Gudang Garam sampai hari ini belum beli. Jadi untuk apa buru-buru petik muda yang nanti beratnya akan kurang, sangat merugikan petani,” tegas Bos HM.

Ia juga berharap pabrik-pabrik rokok besar nasional segera membuka pembelian agar serapan tembakau Madura bisa lebih maksimal dan harga di tingkat petani tetap terjaga.

Teman-teman media bisa menanyakan kepada pabrik-pabrik besar, kapan mereka buka. Tembakau kita sudah banyak, sudah banyak yang panen. Harus dibeli untuk penyerapan petani,” ujarnya.

Dengan target 1.000 ton, gudang di Desa Daramista dipastikan akan terus beroperasi selama musim panen berlangsung. Langkah Bos HM ini diharapkan menjadi penyeimbang pasar dan menjadi alternatif penting bagi petani tembakau Madura di tengah belum dibukanya gudang-gudang pabrikan besar pada musim panen 2026.

Tinggalkan Balasan