Sumenep, Demarkasi.co – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur yang merupakan unit pelaksana program makan bergizi gratis (MBG) dari Pemerintah terus diguncang kritik dari sejumlah elemen masyarakat setempat.
Pasalnya, SPPG alias Dapur MBG tersebut diduga menyajikan menu makanan yang sudah tidak layak konsumsi dan diduga tidak memenuhi standar keamanan pangan.
Kasus terkini, terjadi di SPPG Pordapor yang beroperasi di bawah naungan Yayasan Darul Arqom Batukerbuy. Dapur ini diduga menyajikan menu tidak layak konsumsi, berulat dan bau. Kasus ini viral setelah videonya diunggah ke sejumlah grup WhatsApp.
Salah satu orang tua siswa di lembaga pendidikan Tarbiyatul Athfal Tanodung Laok, Desa Guluk-Guluk mengaku bahwa menu yang dikirim ke sekolah anaknya berlendir dan basi. menurutnya hal ini berpotensi menyebabkan keracunan jika tetap dibiarkan dikonsumsi.
Parahnya, orang tua siswa menemukan banyak ulat dalam menu nasi yang dikirim ke lembaga tersebut. Padahal siswa di lembaga ini sudah mengonsumsi menu MBG berulat yang tidak diketahui sebelumnya oleh para wali siswa.
“Duh ya Allah, asli mun reyah benni fitnah, jet neng naseen pas possak olak, Olak ne’kene’ wa, Benni fitnah reyah, duh de’remmah reyah mangkanah molanin gellek ekakan tak apangrasah mangkanah teng bile econgngok pas bennyak olaan, duh kah pas arapaa reyah (Madura)/Duh ya Allah, kalau ini asli bukan fitnah, di nasinya penuh ulat, ulat kecil-kecil, ini bukan fitnah, bagaimana ini padahal mulai tadi dimakan tidak merasa saat dilihat ternyata banyak ulatnya, duh bagaimana ini,” ujar wali siswa dalam video yang beredar di sejumlah WhatsApp Grup (WAG) kecamatan Guluk-Guluk. Senin (19/1/2026).
Sebelumnya, Kasus makan bergizi gratis ini dilaporkan juga terjadi di beberapa desa dan sekolah lain di kecamatan Guluk-Guluk. Seperti disampaikan Ach. Farid Azziyadi, salah satu wali siswa di Pordapor mengaku, bahwa anaknya pernah juga menerima susu asam, nasinya basi dan ayamnya sangat keras. “Bagaimana mungkin ini akan memenuhi gizi anak-anak kita,” ujar Ach. Farid Azziyadi, wali siswa SDN di desa Pordapor. Senin (19/1/2026).
Padahal, sambung Ach. Farid Azziyadi pada media ini, SPPG selain berfungsi sebagai dapur pusat untuk memproduksi, keberadaanya juga harus menjaga kualitas, dan mendistribusikan makanan bergizi seimbang ke sekolah-sekolah guna meningkatkan gizi anak-anak Indonesia khususnya di Kabupaten Sumenep.
Menurutnya, program ini merupakan suatu ikhtiar Presiden Prabowo Subianto dalam mendukung tumbuh kembang anak-anak Indonesia, dan salah satu media untuk mewujudkan Indonesia Emas.
“SPPG berperan penting dalam rantai penyediaan makanan, mulai dari pengadaan bahan baku hingga penyajian makanan higienis di sekolah,” tegas Farid.
Atas beberapa kejadian ini, Farid meminta seluruh pihak terus melakukan pengawasan minimal di daerah masing-masing agar SPPG tidak sembarangan memberikan menu kepada anak-anak di sekolah.
Dikalimatkan Farid bahwa unsur yang ada dalam SPPG khususnya di desa Pordapor diduga tidak berfungsi. Pihaknya menuding jika pihak-pihak yang bertanggungjawab kuat diduga tidak melakukan kewajibannya sesuai tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) masing-masing.
“Setiap dapur kan ada pengawasnya, ada kepala dapur dan ada ahli gizi. Kemana mereka, apa yang dikerjakan mereka. Jangan-jangan mereka tidak bekerja?,” pungkasnya.
Sementara, Kepala SPPG Pordapor Maskiyatun merespon tegas bahwa menu yang ditampilkan di video tidak sama dengan menu dari dapur SPPG Pordapor. Sebab, tampilan timun yang ada dalam video tersebut tidak sama dengan timun yang dipakai di SPPG Pordapor.

Bahkan, kepala SPPG Pordapor ini mengaku sudah melakukan konfirmasi ke lembaga Tarbiyatul Athfal Tanodung Laok, Maskiyatun menyampaikan bahwa pihak sekolah selama ini tidak ada keluhan apapun. Dirinya juga meminta pihak sekolah agar bertemu langsung dengan wali siswa dalam video tersebut.
“Mohon ijin bapak, berdasarkan video yang beredar, kami langsung konfirmasi ke pihak sekolah dan pihak sekolah juga menyampaikan kalau selama siswa menikmati paket MBG tidak ada keluham apapun. Dan saya juga minta ke pihak sekolah untuk ketemu sama wali siswa tersebut, dan info dari pihak sekolah menunya sudah dibuag. Selain itu melihat dari tampilan menu, dari timunnya saja tidak sama dengan timun yang kami pakai.” Kata Maskiyatun, Kepala SPPG Pordapor saat dikonfirmasi media ini melalui WhatsApp. Senin (19/1).












