Sumenep, Demarkasi.co – Musim penghujan telah tiba, dan kewaspadaan dini kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Sumenep mulai ditingkatkan. Pemerintah Kabupaten Sumenep melalui Dinas Kesehatan dan P2KB mengimbau masyarakat untuk waspada dan berperan aktif dalam mencegah penyebaran DBD.
Kepala Dinas Kesehatan dan P2KB Sumenep melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Achmad Syamsuri menyatakan bahwa kasus DBD memang sudah ada sejak tahun lalu, namun masih bisa ditangani dengan baik oleh tim kesehatan. Namun, dengan meningkatnya kasus DBD saat musim penghujan, masyarakat diminta untuk lebih waspada dan melakukan antisipasi awal.
Masyarakat juga diminta untuk tidak menggantung pakaian bekas di kamar tidur dan kamar mandi, karena dapat menjadi sarang nyamuk. Peran serta masyarakat sangat penting dalam mencegah penyebaran DBD, karena menurutnya jika hanya dibebankan kepada Dinas Kesehatan dan P2KB, maka upaya pencegahan tidak akan berhasil.
“Target Penurunan Kasus DBD yakni Penurunan kasus DBD yang ditangani dan Penurunan kasus DBD yang meninggal,” kata Achmad Syamsuri, saat ditemui di Ruangannya. Rabu (26/11/2025).
Bahkan, Dinas Kesehatan dan P2KB Sumenep telah menyiapkan SDM, obat-obatan, cairan, dan tempat rawat inap di masing-masing Puskesmas. Namun, peran serta masyarakat masih sangat dibutuhkan untuk mengatasi kasus DBD di Kabupaten Sumenep.
Syamsuri menuturkan, Kasus DBD di Sumenep tahun 2024 sebanyak 1.532 kasus, sedangkan tahun 2025 menurun menjadi 946 kasus. Puskesmas Kalianget menjadi wilayah dengan kasus DBD terbanyak, yaitu 105 kasus, sementara Puskesmas Raas tidak memiliki kasus DBD (nihil).
Penurunan kasus DBD ini yang mencapai 40 persen tersebut patut diapresiasi, namun perlu diingat bahwa DBD masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan berdampak pada kerugian sosial ekonomi.
“Peran serta masyarakat sangat penting dalam mencegah penyebaran DBD. Mari kita bekerja sama untuk menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan,” ujarnya.
Pihaknya mewaspadai adanya lonjakan kasus DBD saat musim penghujan, sebab DBD ini erat kaitannya dengan musim penghujan akibatnya banyak genangan-genangan air dari sisa-sisa hujan dan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan sehingga berpotensi menjadi tempat berkembangbiaknya nyamuk hal ini perlu diwaspadai oleh seluruh masyarakat kabupaten Sumenep.
Berdasarkan pengakuan Achmad Syamsuri, setiap tahun pihaknya sudah membuat surat edaran yang langsung ditandatangani oleh kepala dinas ke semua Puskesmas terkait kewaspadaan dini menghadapi musim penghujan dan melonjaknya kasus DBD.
“Sejak jauh hari teman-teman bekerjasama dengan Prokes memberikan penyuluhan dan edukasi melalui pertemuan-pertemuan di balai desa seperti program posyandu, di kecamatan, di sekolah-sekolah untuk memotivasi agar ada antisipasi awal terhadap kasus DBD,” imbuhnya.
Kabid P2P Dinkes P2KB Sumenep ini menghimbau agar selalu menjaga suhu serta sirkulasi udara di kamar agar tetap sehat, tidak menggantung pakaian bekas di kamar tidur dan kamar mandi sebab itu juga berpotensi menjadi sarang nyamuk hinggap.
“Yang terpenting juga peran serta dan kesadaran masyarakat dalam proses pencegahan DBD, peran serta masyarakat menjadi modal dasar dalam mengatasi kasus DBD di kabupaten Sumenep karena jika hanya dibebankan kepada Dinkes dan Puskesmas insyaallah tidak akan berhasil,” pungkasnya.












