Sumenep, Demarkasi.co – Alhamdulillah, dua puluh hari kita sudah melalui proses berpuasa Ramadan 1447 Hijriyah yang dimulai sejak Kamis, 19 Februari 2026 versi Pemerintah dan Nahdlatul Ulama. Berdasarkan tradisi Jawa termasuk Madura memasuki malam Salekoran/Lekoran (Madura-Red) atau dikenal dengan malam likuran (Jawa) masyarakat biasanya menyajikan berbagai menu makanan yang terbuat dari bahan dasar ketupat.
Diketahui bahwa Tradisi ketupat Salekoran/Lekoran atau likuran di bulan Ramadan merupakan sebuah Tradisi yang sudah diwariskan sejak nenek moyang mereka. Biasanya ini dilakukan di daerah Jawa dan Betawi.
Ketupat/Topak (Madura) di malam selikuran merupakan wujud akulturasi budaya Islam Jawa yang diperkenalkan oleh sunan Kalijaga yang merupakan salah satu Walisongo, sebagai media dakwah untuk menyebarkan ajaran agama Islam secara kultural di tanah Jawa.
Tradisi ini menggabungkan nilai-nilai Islam dengan tradisi lokal masyarakat Jawa, sehingga menjadikan ketupat sebagai media dan simbol filosofis yang mendalam.
Ketupat berdasarkan Filosofi Sunan Kalijaga merupakan simbol permohonan maaf serta penyucian diri atau popular dengan istilah Ngaku Lepat (Mengaku Kesalahan) dan Laku Papat (Empat Tindakan).
Berdasarkan berbagai sumber media menyebut bahwa anyaman janur yang sangat rumit pada pembuatan ketupat sebagai lambang lika-liku kehidupan manusia, sedangkan isi yakni beras yang berwarna putih dan bersih sebagai simbol kesucian hati setelah manusia itu saling memaafkan.
Tradisi ketupat menjadi simbol pengakuan dosa manusia, terutama saat saling bersalaman atau sungkeman lepas shalat taraweh, di mana masyarakat saling memaafkan agar kembali suci, layaknya isian ketupat yang berwarna putih.
Sedangkan makna anyaman dan bahan dasar ketupat janur yang terbuat dari daun kelapa muda yaitu berasal dari bahasa Arab yakni kata Ja’a Nur yang memilki arti cahaya telah datang. Anyaman janur yang rumit dan rapat melambangkan persaudaraan, persatuan masyarakat, serta kompleksitas nafsu duniawi yang dibungkus hati nurani.
Bentuk segi empat pada ketupat dimaknai sebagai kiblat empat arah mata angin dan satu pusat (kiblat papat limo pancer) artinya adalah ke mana pun manusia pergi, maka harus selalu mengingat arah kiblat (Tuhan) mereka.
Umumnya pelaksanaan tradisi ini dilakukan pada malam-malam ganjil, mulai malam ke-21, 23, 25, 27 dan malam ke-29 bulan Ramadan. Ihwal tersebut, masyarakat meyakini bahwa tradisi berbagi ketupat sebagai persiapan menyambut malam Lailatul Qadar.
Seperti yang dilakukan masyarakat Sumenep, Madura, Jawa Timur, tradisi menyajikan dan berbagi ketupat pada malam-malam ganjil di 20 hari terakhir Ramadan (Salekoran/Selikuran/Lekoran/Likuran), khususnya malam ke-21 hingga ke-29. Ini simbol rasa syukur, sedekah, dan penyucian diri di sepertiga akhir Ramadan, yang seringkali dibarengi dengan doa bersama di masjid dan mushalla atau malam qunutan taraweh.
Di lingkungan kecamatan Guluk-Guluk, masyarakat menjadikan ketupat sebagai varian menu bermacam-macam, mulai Kaldu Ketupat (Lontong), masak opor, soto, Campor dan rujak, kemudian mereka membawanya ke Mesjid dan Mushalla untuk memanjatkan doa bersama sekaligus membagikannya agar dimakan bersama sebagai bentuk sedekah.
Selain ketupat, masyarakat biasanya juga membawa makanan lain seperti, kue serabi, buah-buahan, minuman berupa kopi, teh dan kolak. Tradisi ini mengajarkan kita untuk senantiasa terus Meningkatkan silaturahmi, berbagi rasa syukur karena telah melewati separuh puasa, dan memperkuat persaudaraan. Wallahu alam.
Ketupat di Malam Salekoran, Tradisi Sunan Kalijaga, Media Dakwah Akulturasi Budaya Islam Jawa












