Petani Tembakau Sumenep Menghadapi Tantangan Cuaca dan Harga yang Tidak Menentu

Petani Tembakau Sumenep Menghadapi Tantangan Cuaca dan Harga yang Tidak Menentu
Ladang Tembakau Milik Warga Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Madura

Sumenep | Demarkasi.co – Musim tanam tembakau tahun ini para petani merasakan jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Mulai bulan April hingga masuk bulan Juli 2025 curah hujan masih relatif tinggi.

Hingga detik ini, matahari bulan Juli tak kunjung membakar ladang tembakau petani. Petani tembakau Madura khususnya kabupaten Sumenep belum mencium aroma khas daun emas meskipun keringat mereka terus bercucuran menambah basah ladang mereka.

Namun, kembang harapan para petani untuk menyulam asa terus mekar di tengah terombang-ambing nya ketidakpastian harga dan kualitas tembakau di musim kemarau basah tahun ini.

Salah seorang warga desa Guluk-Guluk, Moh. Fikri mengungkapkan, pihaknya sudah dua kali menanam bibit tembakau di ladang miliknya sayangnya bibit yang ditanam banyak yang mati akibat hujan yang terus melanda daerahnya.

“Saya sudah dua kali nanam tapi banyak yang mati akibat hujan,” kata Moh. Fikri saat diwawancara media ini. Selasa (08/07/2025).

Tidak hanya persolan cuaca tidak menentu tapi mahalnya harga bibit tembakau membuat petani semakin menjerit di tengah terhimpitnya ekonomi. Mulai harga Rp. 45.000 di bulan April sampai harga Rp. 125.000 per paket isi 1000 batang pohon tembakau di bulan Juli 2025.

Meski demikian dirinya harus tetap menebar semangat untuk terus memantapkan niat dan cita-citanya dalam merawat dan membesarkan tembakau yang merupakan warisan nenek moyang itu.

Menurutnya, tembakau merupakan warisan leluhur yang harus terus dijaga dan tetap dilestarikan hingga ke anak cucunya. Karena kebiasaan ini menurutnya sudah turun temurun, tidak hanya keringat dan doa tapi masa depan keluarga juga bergantung pada proses tersebut.

Dirinya mengaku sudah puluhan tahun bergelut dengan tembakau tapi soal harga bibit tidak semahal tahun ini. Dirinya pun berharap agar harga jual nanti bisa stabil dan menguntungkan.

Selain itu, Fikri juga menaruh harapan pemerintah agar dapat mendukung dalam bentuk kebijakan yang melindungi mereka para petani tembakau dalam bentuk kebijakan dari fluktuasi pasar dan regulasi yang memberatkan.

“Kami juga mengharapkan adanya perhatian terhadap kualitas tembakau yang dihasilkan, baik melalui penyediaan bibit unggul, pupuk yang berkualitas maupun berupa bimbingan teknis dari penyuluh pertanian,” pungkasnya.