Sumenep | Demarkasi.co – Viralnya pemberitaan terkait Panen Raya bibit bawang merah bantuan dari pemerintah kabupaten melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) kabupaten Sumenep, Jawa Timur, mulai bermunculan respon dari masyarakat desa Basoka, kecamatan Rubaru.
Pasalnya giat panen raya yang berlokasi di desa Basoka, kecamatan Rubaru oleh bupati dan Forpimda pada hari Rabu, 2 Februari 2022 lalu kuat dugaan merupakan acara formalitas dan ceremonial.
Diakui warga desa setempat yang tergabung dalam daftar salah satu anggota kelompok tani (Poktan) di desanya, warga desa Basoka ini mengaku heran kepada media ini karena mayoritas bibit bantuan yang diberikan kepada sejumlah anggota kelompok tani rusak sebelum ditanam.
“Kaule Mak heran mas, cek Reng bibit se deri pamarenta kruwah rosak sabellunah etamen, kan narema cem macem mas, bede se 25 Kg, bede se 22 kg. Nah Deri bibit se epareng pamarenta nekah mas paleng SE bisa etamen perak 2 kg ka 5 kg, Mak bisa panen raya Sampek attonan neng e lokasi sittung genikah,” (Saya kok heran ya mas, padahal bibit yang dari pemerintah itu rusak sebelum ditanam, jumlah yang diterima bervariasi, ada yang menerima 25 Kg, ada yang 22 Kg, Nah dari bibit yang dibantu pemerintah ini mas, yang dapat ditanam hanya berkisar 2-5 Kg saja, pertanyaannya kok bisa panen raya hingga berton-ton di satu lokasi). Kata warga desa Basoka saat dimintai keterangan media ini di sekitar lokasi panen raya. Jum’at, 11 Februari 2022.
Wanita paruh baya ini bahkan membeberkan jika mayoritas masyarakat di desa tersebut gagal panen dan menyisakan hutang yang cukup besar, pemerintah melalui DKPP hanya membantu bibit dan pupuk organik sebanyak 2 sok saja.
“Bibit Bebeng, capuk organik 2 sok, engghi calattong kruwah can oreng kaenjeh, pas bede lampu sittung mas penangkal hama Keng esabek eromanah katoa kelompok, ye panen raya, raya dari hutang, pamarenta perak pencitraan maloloh?,” (Bibit bawang, pupuk organik 2 sok, kata orang di desa ini ya kotoran sapi itu mas, ada satu lampu penangkal hama mas tapi, ada di rumah ketua kelompok, ya panen raya mas tapi, raya alias besar dari hutang dan pemerintah hanya pencitraan terus?) imbuhnya.
Lebih lanjut warga desa Basoka ini menyampaikan bahwa untuk lokasi yang dihadiri Bupati Sumenep itu benar-benar panen raya namun, kata dia, bibit yang ditanam bukanlah bibit bantuan melaikan bibit milik sendiri yang biasa ditanam oleh keluarganya dari dulu.
“Engghi mun se edetengi bupati rikberinah kruwah panen raya ongghu mas Keng Benni Din kelompok tani, kruwah bibiteh tibik, lakar biasa eka’dissah Olle attonan sabben taon pas bebengah jerajeh mas,” (Ya kalau lokasi yang dihadiri Bupati Sumenep kemarin itu mas benar-benar panen raya namun, bukan milik kelompok tani, disana memang biasa mendapatkan berton-ton bawang tiap tahunnya dan bawangnya besar-besar). Katanya menambahkan.
Berdasarkan penelusuran media Demarkasi.co Selain rusak sebelum ditanam ternyata bibit yang sudah melalui proses tanampun juga ikut rusak, hal itu kata warga akibat dari hama ulat yang tidak dapat dikendalikan oleh para petani, meskipun ada yang berhasil dipanen harga pasar tidak mimihak terhadap petani bawang hingga tak pelak sebagian warga menjual bawangnya ke Surabaya dengan harga berkisar diangka 8 (Delapan) ribu rupiah perkilogramnya.
Diberitakan sebelumnya bahwa kabar mengejutkan datang dari masyarakat desa Basoka, kecamatan Rubaru, kabupaten Sumenep, Jawa Timur, pasca menyebarnya kabar perihal panen raya bantuan bibit bawang merah melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) kepada sejumlah Kelompok Tani (Poktan) di desa setempat beberapa waktu lalu.
Ihwal fenomena panen raya bawang merah tersebut telah jamak melukai perasaan insan tani di kecamatan Rubaru, pasalnya, bawang merah yang merupakan milik petani yang tidak tergabung di Poktan telah sengaja diklaim milik Poktan tertentu yang ada di desa Basoka.
Berdasarkan penuturan warga yang tergabung di Poktan desa Basoka menyebutkan, lokasi yang ditempati panen raya bukanlah milik anggota kelompok tani desa Basoka.
“Benni pak Benni anggota kelompok, genikah gun eyakoh andiknah kelompok polanah bebengah bhegus,” (Bukan pak itu bukan anggota kelompok tani, itu hanya diklaim milik kelompok karena kualitas bawangnya bagus – red). Kata masyarakat Basoka yang identitasnya enggan dipublis media ini. Jum’at, 11 Maret 2022.
Parahnya, pria ini mengaku jika yang dipanen bupati dan kepala dinas serta para undangan itu bukanlah bawang merah hasil dari bibit bantuan yang diberikan pemerintah melalui DKPP, melainkan bibit asli desa Basoka yang pemiliknya pun tidak tergabung di Poktan desa setempat.
“Bunten benni, Se epanen rikberiknah kruwah asli bibit Desa Basoka, Keng bik ketua-ketua kelompok kruwah eyako Makle eyalem bik bupati,” (Bukan, bawang yang dipanen kemarin, itu asli bibit desa Basoka, namun oleh para ketua Poktan diklaim milik Kelompok agar dapat simpati dari bupati – red). Tambahnya meyakinkan.
Dihubungi terpisah perempuan yang tergabung di salah satu Poktan desa Basoka menyampaikan jika pihaknya memang telah mendapatkan bantuan berupa 25 Kg bawang merah tapi, sayang bibit yang diterimanya banyak yang busuk sehingga mayoritas anggota Poktan di desa ini hanya dapat menanam bibit bantuan tersebut relative sedikit.
“Kami memang mendapatkan bibit bantuan berupa bawang merah sebanyak 25 Kg, namun banyak yang busuk dan mayoritas para penerima bantuan ini semuanya sama-sama banyak yang busuk, jadi pak kami paling bisa tanam itu bibit 4-5 Kg,” bebernya.
Diberitakan Media Center sebelumnya pada Rabu ( 02/03 ) bahwa Panen bantuan bibit bawang merah melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian kepada Kelompok Tani (Poktan) di Desa Basoka Kecamatan Rubaru ternyata membuahkan hasil, buktinya batuan bibit itu mampu menghasilkan panen ratusan ton bawang.
Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Sumenep, bantuan bibit bawang melalui Anggaran Kementerian Pertanian Tahun 2021 kepada Poktan sebanyak 33 ton dengan luas tanam 52 hektar.
Sementara hasil panen bawang merah dengan luas tanam 52 hektar yang sudah panen bawang seluas 43,76 hektar dengan menghasilkan bawang sebanyak 425 ton.
“Kami bangga karena Kelompok Tani di Desa Basoka berhasil melaksanakan panen bawang merah di musim hujan seperti ini dengan hasil yang bagus,” kata Bupati Sumenep, Achmad Fauzi, SH, MH, di sela-sela Panen Raya Bawang Merah Bersama Petani di Desa Basoka Kecamatan Rubaru, Rabu (02/03/2022).
Tanaman bibit bawang merah oleh kelompok tani tidak hanya hasil panennya saja yang berlimpah, namun setelah masa panen itu terkait dengan harga jual bawang cukup baik, sehingga meski musim panen harganya tetap stabil.
“Para petani menyampaikan harga jual di tingkat petani pasca panen terendah Rp12.000,- hingga Rp13.000,- dan tertinggi sampai dengan Rp22.000,- hingga Rp24.000,- perkilogram, jadi dengan harga itu patut bersyukur,” tuturnya.
Bupati mengatakan, pemerintah daerah terus berupaya agar harga bawang merah tetap bagus terutama saat musim panen untuk meningkatkan perekonomian petani.
“Kami terus berusaha pada musim panen bawang merah mengantisipasi agar harganya tetap stabil atau tidak turun dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani,” terangnya.
Hadir pula pada panen raya bawang merah Wakapolres Sumenep Kompol Palma Fitria Fahlevi, Dandim 0827/Sumenep Letkol Inf Nur Cholis, A.Md, Kejari Sumenep Adi Tyogunawan, SH, MH, Kepala BPS Sumenep.
Di tempat yang sama Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Arif Firmanto, S.TP, M.Si, mengungkapkan, penjualan bawang merah hasil panen tidak hanya di Kabupaten Sumenep saja, namun juga dijual ke pasar di luar daerah.
“Hasil panen bawang merah ini banyak dijual ke Jawa seperti ke Surabaya dan Malang sehingga jangkauan penjualannya tidak hanya di Kabupaten Sumenep,” terangnya.
Hasil panen bawang merah hari ini adalah bibit bawang merah jenis varietas Rubaru atau lokal yang mempunyai kelebihan tahan penyakit meskipun para petani menanamnya saat musim penghujan (off seasons).
“Kami terus mengembangkan bibit bawang merah varietas Rubaru melalui bantuan dana dari pemerintah pusat, agar penanamannya bisa dilakukan di Kecamatan lainnya,” tandasnya.
Sedangkan salah seorang petani, Holilah mengaku hasil panen bawang merah kali ini sangat memuaskan, mengingat selain kualitas baik harga juga tergolong tinggi, yang tidak lepas dari perhatian Pemerintah Daerah dalam pengembangan bawang merah varietas lokal.
“Alhamdulillah, harganya sangat bagus jadi petani tidak merugi. Semoga musim panen selanjutnya hasil panen dan harga jualnya tetap bagus seperti saat ini,” pungkasnya.
Untuk diketahui, bantuan ini adalah anggaran dana pemerintah pusat tahun 2021 yang berasal dari program Upland. Bantuan ini untuk 52 hektar dengan jumlah bantuan 33 ton bibit yang dibagi kepada 26 kelompok tani di Desa Basoka, Kecamatan Rubaru.
Tak Hanya Gagal Panen, Para Petani Bawang Merah di Desa Basoka Rubaru Banyak Menyisakan Hutang, Pemkab Sumenep Pencitraan?












