Sumenep, Demarkasi.co – Setitik embun menyegarkan pagi, setitik kebaikan menyucikan hati. Mari sambut Ramadhan tahun ini dengan hati yang suci. Begitulah kata mutiara yang patut kita dengungkan menyambut bulan penuh berkah dan ampunan yakni Ramadan.
Dalam sebuah hadits nabi yang diriwayatkan oleh Imam An-Nasai menyebutkan bahwa “Siapa yang bergembira dengan masuknya Bulan Ramadan, ALLAH akan mengharamkan jasadnya masuk neraka” (HR. An-Nasa’i).
Bagi umat muslim di Indonesia dan seluruh dunia, Ramadan merupakan bulan yang sangat dinantikan. Bulan penuh berkah ini menjadi momen spiritual yang istimewa untuk meningkatkan ketakwaan, memperbanyak ibadah, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Sehingga, umat muslim sangat menantikan kedatangan bulan suci Ramadan saban tahunnya dengan berbagai persiapan dan sangat matang. Baik persiapan fisik maupun secara mental dan juga materiil.
Dalam beberapa hari ke depan bulan suci Ramadan akan tiba. Namun, ada potensi perbedaan awal puasa Ramadan antara pemerintah (Kementerian Agama) dan Nahdlatul Ulama (NU) dengan Muhammadiyah. Hal Ini disebabkan adanya penggunaan metode perhitungan yang berbeda.
Kendati sama-sama menggunakan kalender Qomariyah, terdapat perbedaan metode hitung untuk beberapa kelompok, terutama organisasi masyarakat (ormas) Islam terbesar di Indonesia seperti NU dan Muhammadiyah. Muhammadiyah menggunakan metode hisab, sementara Kementerian Agama dan NU menggunakan metode rukyatul hilal atau pengamatan hilal dan hisab dengan perhitungan astronomis.
Hasil dari pengamatan hilal di berbagai daerah di Indonesia ini akan dibahas dalam sidang isbat untuk menentukan apakah sudah masuk bulan baru atau belum. Kemudian, hasil sidang isbat akan menjadi acuan bagi masyarakat untuk memulai ibadah puasa.
Berdasarkan perkiraan kalender Hijriah, awal Ramadan 1447 Hijriah diprediksi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Meski demikian, penetapan resmi awal puasa Ramadan tetap akan menunggu hasil sidang isbat yang diselenggarakan oleh pemerintah melalui Kementerian Agama.
Sementara itu, Muhammadiyah telah menetapkan awal puasa Ramadan 2026 jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Keputusan ini mengacu pada Maklumat Muhammadiyah Nomor 01/MLM/1.1/B/2025 serta penggunaan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Menurut ketua PCNU Kabupaten Sumenep, KH. MD. Widadi Rahem, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama telah merilis kalender Hijriah yang menyatakan bahwa 1 Ramadan 1447 H akan dilaksanakan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Hanya saja, penetapannya secara resmi akan diputuskan ketika sidang isbat yang rencananya akan digelar pada akhir bulan Syaban 1447 H.
“Ketentuan awal puasa 2026 pemerintah ini mengacu pada metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal),” kata KH. MD. Widadi Rahem pada media ini, Selasa (27/1/2026) malam.
Menurut ketua PCNU Sumenep berdasarkan namanya, metode hisab diterapkan oleh pemerintah Indonesia untuk menghitung dan mengetahui posisi bulan secara astronomi.
Sementara itu, metode rukyat dilaksanakan dengan cara mengamati hilang secara langsung di sejumlah titik pemantauan di Indonesia.
Lalu, kedua hasil akan dikumpulkan dan pernyataan dari pemerintah pada sidang isbat akan menjadi acuan resmi pelaksanaan puasa Ramadan bagi seluruh umat Islam di Indonesia.
“Apabila menurut versi pemerintah 1 Ramadan 1447 H dimulai pada 19 Februari, lantas kapan puasa 2026 NU (Nahdlatul Ulama)?, Pada prinsipnya, organisasi Islam di Indonesia mengikuti ketetapan dari pemerintah dalam menentukan awal puasa Ramadan,” ujarnya.
Nahdlatul Ulama kata KH. MD. Widadi Rahim, berpegang teguh pada penggunaan metode rukyatul hilal bil fi’li (pengamatan hilal langsung di lapangan) yang kemudian hasilnya dibahas saat sidang isbat.
Artinya, dapat dikatakan bahwa jadwal pelaksanaan puasa menurut Nahdlatul Ulama akan menyesuaikan dengan hasil dari sidang isbat yang diadakan oleh pemerintah.
“Jika hilal terlihat dan memang memenuhi kriteria, maka Nahdlatul Ulama akan menetapkan 1 Ramadan 1447 H bersamaan dengan keputusan dari pemerintah,” jelasnya.
Sebaliknya, kata beliau apabila hilal ternyata tidak terlihat, berarti pelaksanaan awal puasa Ramadan nantinya dapat bergeser satu hari.
Diketahui bahwa berdasarkan KHGT (Kalender Hijriah Global Tunggal), Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan bahwa awal puasa 2026 jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.
Hal ini merujuk pada metode hisab hakiki yang diterapkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid. Keputusan ini tercantum dalam Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025.
“Apabila dihitung mundur dan jika kita mengikuti kalender yang ditetapkan pemerintah per hari ini maka Ramadan tahun ini tinggal 22 hari lagi (Terhitung tanggal 27 Januari 2026),” pungkasnya.












